Sabtu, 31 Desember 2011

New Year Celebrating Party Ala Fakir Asmara

Moment perayaan tahun baru merupakan masa yang paling diantikan bagi sepasang kekasih. Tahun baru menjadi moment dimana mereka bisa melakukan perayaan berjamaah atas jalinan cinta kasih mereka. Sebaliknya, tahun baru bagi para jomblo adalah neraka dunia dan lebih menyakitkan daripada keinjek gajah. Apalagi tahun baru kali ini bertepatan dengan malam mingu, maka pilu hati yang dirasakan para jomblo derajatnya jadi double. Dalam kasus ini, kedudukan para manusia homo menjadi lebih terhormat dibandingkan dari para jomblo karena setidaknya mereka masih punya pasangan untuk menyaksikan kilauan indahnya kembang api.
Itulah kemudian yang merasuki relung sanubari para golongan Fakir Asmara yag berkumpul di skretariat IAPIM pada malam tahun baru. Empat belas manusia-manusia galau yang tidak laku dipasaran para gadis. 
Para fakir asmara ini sudah pada nongol menjelang magrib. dan setiap makhluk yang ditanya mengenai "rencana keluar kemana nanti malam?", pasti jawaban yang dikeluarkan "kemana bagus?". Ditanya malah balik nanya... Dari jawaban dan ekspresi muka, dapat dipastikan yang bersangkutan menderita pilu hati stadium IV. 
TAk kunjug mendapat jawaban memuaskan, maka dari rapat singkat yang dilaksanakan diputuskan bahwa kita harus adakan acara masak-masak/bakar-bakar/goreng-menggoreng. Sebagaimana tetangga samping rumah sibuk bakar2 ayam.
Tapi cobaan sebagai jomblo rupanya belum cukup. Karena ternyata para kaum inferior ini selain fakir asmara, mereka juga fakir miskin. Acara patungan untuk beli makanan memakan waktu 2 jam!! Dari acara kumpul-kumpul duit akhirnya terkumpul 18ribu rupiah. 7rb diantaranya adalah uang koin Rp. 200,- yang dilakban per 5 keping. Saya pun bertanya-tanya kenapa acara tahun baru harus pada akhir bulan ya?
Dari berbagai referensi yang ada, maka bahan makanan yang dapat dibeli dengan uang segitu cuma singkong! Dengan langkah gontai, akibat dari kombinasi galau dan miskin, kita mendatangi toko kelontong dekat kontrakan untuk menebus sang singkong.  Keluar dari toko kelontong kantog kresek hitam penuh terisi dengan singkong, cabe, minyak, tomat, terasi, dan garam.
Bakal singkong rebus

Si kompor sialan

Cobaan belum berakhir juga. Ternyata, gas kompor habis. KEmbali acara patungan digelar sampai terkumpul 15rb untuk beli gas. Gas terbeli, dan cobaan berlanjut. 
Si Kompor sepertinya menerapkan ilmu andalan para birokrat. Semakin di butuhkan semakin tidak berfungsi. Si Kompor menolak untuk menyala. Segala jurus sotoy "ilmu membenarkan kompor" di keluarkan tetapi tetap tidak ada tanda-tanda api kehidupan akan muncul. 
Perjuangan beum berhenti sampai disitu karena manusia-manusia jomblo ini setidaknya diberkahi dengan hati yang kuat dan sikap pantang menyerah meskipun ditolak berkali-kali. Kompor gas tidak mau menyala, maka kita pakai kompor arang a.k.a. tungku.
Tapi lagi-lagi cobaan tidak berhenti sampai di situ. Hujan beberapa hari terakhir dengan sukses merembes ke tempat penyimpanan arang. Arang basah, dan api pun tidak ada. Disiram dengan minyak tanah, bensin, ditambah kertas koran, tetep si arang tidak memberi tanda-tanda terbakar. Kompak dengan gas, si kompor arang juga menolak untuk menyala. 
Pada moment ini, para fakir asamara sudah sampai pada titik nadir. Bukan hanya para gadis yang tidak mau berbagi kebahagiaan dengan mereka, bahkan benda-benda tidak bernyawa pun enggan. Nasip!!!!
The worst case scenario pun sudah terbayang di angan-angan: Melewati malam tahun baru dengan galau sambil mencium aroma ayam bakar tetangga. Moment Tahun baru kali ini akan menjadikan derajat kegalauan berlipat-lipat, berlapis-lapis, bertingkat-tingkat, dan berlansung terus-menerus.
Taapi kawan, tuhan selalu ada di dekat orang-orang teraniaya. Jam 11.25, tiba-tiba ada sms dari Asrama Putri Anging Mammiri yang pada intinya mengajak siapa saja yang ada di sekret IAPIM untuk makan-makan dan minum Sarabba di asrama.
Mendapat undangan seperti itu, daya yang ada di kepala yang awalnya tersisa 5watt kembali ke 100watt. Dengan mantap, bak pangeran yang keracunan kecubung, kita melangkah ke asrama putri Anging Mammiri. Berangkat menuju tempat para bidadari tanah Sulawesi berdomisili.
Dengan kecepatan tinggi pitung digeber

Sampai di lokasi, sudah tersedia aneka makanan khas tanah Bugis. Sambutan hangat para dara bugis menandai kedatangan kita. Dengan lahap, makanan yang tersedia tandas.
Dimana-mana, yang namanya anak ma'had, pasti rakus

Seiring dengan selesainya acara makan-makan, kembang api dan terompet berbunyi sahut-sahutan menandakan tahun telah berganti. Melewati moment seperti ini, rasanya kek film india yang happy ending. Sang aktor menari-nari di tiang lsitrik ditemani sang aktris dengan latar belakang kembag api. Hueeekkksss... Ccccuuiiihhhh.....!!!!!

Minggu, 25 Desember 2011

Weekend Kali Ini Hujan Turun

Ini bukan kisah cinta-cintaan seperti kisah rome&juliet. Ini bukan pula tentang curhatan seseorang yang lagi pilu hati a.k.a. galau. Ini juga bukan tulisan tentang hasil renungan filosofis tingkat tinggi. Tapi ini adalah sebuah cerita (lebih tepatnya "kisah tragedi kekonyolan") sekumpulan anak muda, lulusan pesantren, rakus soal makanan, kebanyakan jomblo, dan dengan konyolnya mengubah rencana jalan-jalan menjadi acara JALAN!!! Dan kisah ini terjadi di bawah guyuran hujan!!
Sebelum berkisah lebih jauh, ada baiknya lakon utama dalam skrip ini diperkenalkan dulu:-) Tentu saja oghe' si penulis terlibat disini. Di susul kemudian 5 makhluk lain: Ivan, Zack, Mamat, Wildan dan Yasser.
Keenam makhluk labil ciptaan tuhan itu masing-masing punya alasan berbeda sehingga bisa terlibat dalam kisah konyol ini. Oghe', berusaha untuk mencoba menekan tombol "F5" di otaknya dengan acara jalan-jalan karena bosan melihat skripsinya yang hari itu genap berusia setahun. Ivan, beralasan untuk mencoba merasakan kembali pesona gadis-gadis pribumi setelah sekian lama terpesona dengan artis Korea. Zack, ingin mengetes realibilitas kamera DSLR Canon barunya. Mamat, .......(gak jelas ini makhluk alasannya apa. munkin karena bosen jadi satpam di asrama putri Anging Mammiri). Wildan dan Yasser: peserta termuda, baru resmi jadi mahasiswa 3 bulan terakhir, dan masih agak sedikit "hijau". Alasan dua makhluk terakhir ini juga tidak jelas tapi sepertinya mereka adalah korban doktrinisasi tidak jelas dari 3 makhluk yang disebutkan paling awal.
Oke-oke, "intro-nya" munkin sudah cukup.
Dari acara acara kumpul-kumpul sebelumnya, diputuskan bahwa destinasi kali ini adalah Kota Semarang. Alasannya, banyak makhluk penuh pesona di kota ini: Makhluk cantik di Pecinan, dan makhluk gaib di Lawang Sewu!!! Tapi kemudian diputuskan juga bahwa kita harus sekalian ke Solo karena di sini juga banyak IGO bertebaran yang dikaruniai tutur kata dan wajah yang halus :-D
REncana awal, jalan-jalan ini menggunakan moda transportasi kereta (Ikut trend mentri BUMN yg baru: Pak DI). Dimulailah acara browsing di internet untuk cari jadwal kereta. Berangkat dari stasiun Tugu Jogja dengan kereta Pramex pagi ke Solo, sorenya dari Solo berangkat ke Semarang. Di sinilah kisah konyol ini mulai terjadi. Ternyata, berita yang paling update di internet tentang kereta Solo-Semarang adalah dua tahun lalu. Saat ini kereta Solo-Semarang sudah tidak aktif lagi.
Sampai di Solo, kita memutuskan untuk ke Alun-alun. Saya (oghe) yang mengusulkan rencana tersebut dengan alasan bahwa kita tidak dianggap berkunjung ke sebuah kota kalau tidak ke alun-alunnya. Padahal, saya punya niat pribadi yaitu makan Tengkleng di dekat alun-alun... hehe..
Karena dari hasil denger-denger cerita orang bahwa kota Solo itu ga terlalu luas, kita putusakan untuk jalan kaki dari stasiun ke alun-alun. Ternyata jaraknya alamakjaaangg, JAUH!!!! Setiap orang yang kita tanyai mengenai "the direction to the piazza aka alun-alun", pasti mukanya asem dan dengan jelas terpancar mimik keengganan yang kira-kira berarti :"hah? jalan kaki ke alun-alun? di suruh nikah ama putri sultan juga gw ogah kalo maharnya jalan kaki dari stasiun ke alun-alun". Dan dari sisa rasa keengganan tersebut, di jelaskan bahwa ke alun arahnya: "lurus, terus kiri terus kanan". Dan jawaban sama persis seperti itu kita dapat sampai 4 kali. Artinya, ada 4X belok kiri dan 4X belok kanan atau kita melewati 8 persimpangan!!!
Dari sini kemudian saya mendapat pelajaran dan saya harus bersyukur kepada tuhan atas limpahan nasib pernah terdampar di pesantren 6 tahun. Didikan para ustads memberi saya teman yang tidak pendendam, selalu menanggapi kesialan dengan tertawa, selalu terbiasa menerima keadaan terburuk, dan selalu terbiasa menerima kenyataan kalau keinginan tidak bisa tercapai. Acara jalan kaki ini penuh dengan pose "pamer gigi".
Yang patut di syukuri juga bahwa dengan pake acara jalan kaki, kita bisa bernarsis ria sambil ber-haha-hihi di depan banyak objek keren. Misalnya warung pak dongo, beberapa monumen, beberapa gereja yg bergaya gothic, dan lain-lain.
Sampai di alun-alun, kita buru-buru ke warung tengkleng untuk segera menge-carge energi setelah jalan kaki tadi (dari beberapa info yang kita dapat belakangan, jarak antara stasiun ke alun-alun sekitar 7km. Pantesan aja telapak kaki rasanya seperti terkelupas). Sajian tengkleng pun di lahap dengan buas sampai-sampai persedian nasi si ibu tukang warung, tandas!!!
Dalam hitungan menit, sajian daging kambing di atas pring berubah menjadi seonggok tulang-belulang. Acara makan pun selesai. Dan munkin karena DNA  dari nenek moyang Afrika saya bukan dari homo sapiens tapi dari singa masai, habis makan bukannya tambah kuat tapi malah jadi ngantuk.
Abis makan kita segera ke terminal untuk ke semarang. Dari warung tengkleng kita naik angkot ke terminal. disinilah kemudian kekonyolan kita semakin tergambar dengan jelas. Naik angkot aja rasanya sampai pegel duduk karena lamnya perjalanan. Padahal sebelumnya jalan itu kita tempuh dengan mengendarai sandal atau bahasa kerennya melampah aka jalan kaki..
Sampai diterminal, kita cari bus tujuan Semarang. Kebetulan bus yang standby hanya bus ekonomi tapi AC cuy...!! Dan yang paling saya suka dari bus ini adalah jendelanya yang lebar. Pemandangan sepanjang jalan Solo-Semarang pun ludes disapui pandangan mata. Belum lagi rembesaan air hujan yang membasahi jendela lebar itu semakin menambah syahdu suasana. Susana semakin syahdu dengan iringan lagu "Long Way Round" yang didendangkan sepenuh hati oleh Stereophonic.
Selama perjalanan, pergantian posisi tempat duduk beberapa kali terjadi. Biasanya karena kita tidak tahan kalau ada penumpang sepuh yang naik di tengah perjalanan. Kita pun merelakan kursi empuk bagi simbah-simbah itu. Kita nggak mau kalah donk dari iklan Gudang Garam Merah... hehe..
Setelah menempuh perjalanan 4 jam, kita akhirnya landing di Sukun. Dan entah bisikan dari malaikat mana yang menggoda Ivan sehingga dengan lantang dia mengumandangkan ajakan untuk makan di Pizza Hut di seberang jalan. Mendengar ajakan tersebut, kelima makhluk aneh lainnya menyeberang jalan dengan semangat sumpah pemuda.
Diringi tatapan aneh dari seisi PH, karena pakaian kita yang kusut dan wajah yang jauh lebih kusut, kita mantap melangkah menuju meja paling belakang. Sajian pizza yang bejibun dengan suskes membuat kita kesulitan membengkokkan badan karena kekenyangan. Akibatnya, pose duduk kita jadi seperti sekumpulan penderita ambeien karena gelisah terus-menerus mencari posisi duduk yang mengurangi tekanan di perut.
Urusan perut selesai di PH, kita melanjutkan perjalan ke Cina Town aka Pecinan. Gerimis mendekati hujan menemani perjalan menuju cina town. Tapi apalah daya,  maksud hati ingin memeluk gunung apalah daya gunung meletus. Maksud hati ingin melihat makhluk cantik di Pecinan, yang ada malah emak ama bokapnya!!! Kita pun memutuskan untuk tidak berlama-lama di sini. Selain karena tidak ada penampakan makhluk halus berparas cantik, kita juga takut kalau-kalau ada makhluk halus beneran macam vampir di film-film Hongkong tiba-tiba nongol.
Keluar dari pecinan, radar sotoy kita "switched to on position" untuk mengendus keberadaan mesjid terdekat untuk menginap. Dan akhirnya, bunyi "beep.. beep.. beep..." terdengar menandakan bahwa ada msejid yang cocok untuk dijadikan area untuk bersemayam malam ini. Yaitu mesjid Baiturrahman di area simpang lima.  
Sampai di tujuan, ternyata bukan cuma kita yang termasuk golongan homeless. Banyak juga orang lain yang sudah beranjak menuju ke peraduannya di pelataran mesjid Baiturrahman. Kita kumpul-kumpul dulu, yang mau sholat sholat dulu, dan lain-lain. Lama-kelamaan, perasaan kok kondisi di pelataran tidak aman. Akhirnya kita memutuskan untuk naik ke lantai dua. Tapi sebelumnya kita dihinggapi rasa was-was kalau kita diusir sama marbot karena di situ tidak orang lain yang tidur dan sebagian pintu terkunci. Dan disinilah manfaat belajar tafsir-hadist dulu di pesantren. Sebelum kita naik ke lantai dua, kita sudah mempersiapkan ayat dan hadist untuk dipakai sebagai dalil adu argument dengan si marbot kalau dia mengusir kita dari rumah Allah.. hehe..
Jam 1 dini hari, akhirnya misteri kosongnya lantai dua mesjid terjawab. BANYAK NYAMUK!!! Kalau dijadikan film, maka genre film yang paling tepat menggambarkan serbuan nyamuk sialan itu adalah film kolosal China. Jadi, nyamuk yang dipimpin Andy Lau-nya menyerbu rame-rame ke sekumpulan musuh yang tertidur pulas karena sebelumnya sudah melakukan longmarch dari stasiun solo balapan ke alun-alun.
Jam 3.00, suara muazzin yang getarannya mencapai 19.999 Hz denga sukses membangunkan kita tepat pada pengucapan suku kata pertama dari kalimat Allahu Akbar. 

Sehabis sholat subuh, kita mulai lagi melangkahkan kaki menyusuri kota Semarang. Dimulai dari area Simpang Lima, terus ke Kota Toea, Stasiun Tawang, Tugu Muda, dan Lawang Sewu.



Rasanya, untuk objek-objek tersebut tidak perlu dijelaskan lebih jauh. Masih penuh adegan-adegan konyol nan sial plus tragis. Singkatnya, kita kembali ke jogja jam 2 dengan naik bus patas Nusantara dengan tarif 35ribu dan turun di terminal Jombor.
Demikian kisah konyol ini. Semoga anda bisa memperoleh pelajaran dari sini. Sebagaimana kata pepatah, donkey aja ga pernah jatuh ke lubang yang sama. Maka celakalah orang yang mengulangi kekonyolan orang lain. Cukuplah kami yang mengalami karena kami bisa tertawa dengannya... hehe

Rabu, 26 Oktober 2011

Menimbang Kembali Konsep Musyawarah dan Mufakat di Republik Indonesia (Versi Nyeleneh Tentunya))

Tidak ada yang meragukan totalitas para Founding Father negara kita tercinta ini dalam merancang terbentuknya sebuah negara yang makmur, sejahtera, adil, dan sentosa. Mulai dari pancasila, UUD 45, dan lain sebagainya. Termasuk di antaranya konsep musyawarah dan mufakat ini.
Para founding father ini pasti berpendapat bahwa keputusan yang dibuat oleh satu kepala saja tidak lebih baik daripada keputusan yang dibuat oleh jumlah kepala yang lebih ramai. Dari situlah kemudian dasar konsep musyawarah dan mufakat berawal. Dimana keputusan dibuat secara kolektif untuk di-mufakat-kan.
Akan tetapi, sepertinya konsep musyawarah dan mufakat tersebut telah di selwengkan oleh anak cucu para pendiri bangsa tersebut. Mulai dari ha-hal kecil sampai yang serius, dari olah-raga sampai seni, dan lain sebagainya. Dalam tulisan kali ini, saya hanya menyinggung sedikit mengenai olah raga (sepakbola) dan seni (musik) saja.
Salah satu contoh penyelewengan konsep musyawarah dan mufakat dapat kita temui di kehidupan persepakbolaan tanah air. Kita ketahui bersama bahwa gaya sepak bola suatu bangsa di pengaruhi oleh budaya bangsa itu sendiri.
Misalnya, Spanyol yang dikenal sebagai negeri matador. Matador filosofinya adalalah mempermainkan lawannya (banteng) dengan gerakan yang cantik kemudian pada kesempatan yang pas, si banteng tersebut akan di bunuh. Nah, coba lihat permainan timnas Spanyol, Barca, atau Madrid, sesuai kan dengan budaya bangsanya.
Kemudian Italia, yang dikenal sebagai negara para pemain drama atau senima kawakan. Para pemain drama biasanya sangat senang mempermainkan perasaan penontonnya. Coba lihat permainan klub-klub Italia, sering sekali bola sudah masuk kotak pinalti tapi di-oper lagi ke bek. Atau misalnya aksi para pemain kalau dilanggar atau mendapat kartu kuning yang di-lebay-kan.
Terus Inggris, yang mengklaim diri sebagai negara industri awal. Jamak diketahui bahwa nafas utama dari industri adalah sistem yang kuat dengan pergerakan yang cepat. Begitu jugalah yang terjadi dengan timnas Inggris dengan gaya kick and rush-nya.
Atau Brazil yang dikenal sebagai bangsa yang doyan nari. Coba liha permainan Robinho, Kaka, Ronaldo, Ronaldinho, Pele, etc.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan Indonesia?. Sebenarnya, pemain-pemain bola di Indonesia tidak kalah dengan negara lain dalam memegang teguh budaya bangsanya. Para pemain di Indonesia dengan semangat luar biasa menerapkan konsep musyawarah dan mufakat tersebut di dunia sepakbolanya (secara mentah-mentah). Mau bukti?
Konsep musyawarah dan mufakat, dimana banyak kepala lebih baik dari satu kepala, di telan mentah-mentah oleh khalayak sepakbola Indonesia. Ketika dalam sebuah pertandingan sebelas orang tidak mampu memenangkan pertandingan, maka dengan filosofi musyawarah dan mufakat, para penonton juga ikut turun ke gelanggang memainkan perannya masing-masing. Misalnya, melempar wasit, meneror pemain lawan, atau membakar stadion. Saya yakin, sebagaimana keyakinan para suporter goblok itu, hasil pertandingan akan lain.
Nah, itu di dunia sepak bola. Terus bagaimana di dunia musik? Dunia musik tanah air menurut pengamatan saya menjadi korban dari penyelewengan konsep musyawarah dan mufakat ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masuk ke dalam industri musik bukanlah perkara gampang. Tidak semua orang bisa masuk kedalamnya dan menikmati glamournya dunia tersebut.
Disinilah kemudian konsep musyawarah dan mufakat itu kembali diterapkan mentah-mentah oleh sebagian anak muda di tanah air. Lebih jelasnya begini, ketika satu orang sangat sulit masuk ke industri musik, kenapa kita tidak coba masuk sekalian beramai-ramai? Bukankah lebih banyak kepala menjamin keberhasilan suatu urusan?
Dari pemikiran seperti itu kemudian membanjirlah boyband dan girlband tidak jelas yang mengandalkan kemolekan tubuh dan suara yahud satu atau dua orang anggotanya (yang lain sih ikut joget-joget aja). Menjadi seorang penyanyi tidak perlu suara merdu nan semlohay. Cukup dengan mengumpulkan beberapa teman yang agak ganteng/cantik, bikin gerakan senam pagi yang kompak, terus datanglah ke produser dengan pakaian sama satu rombongan. Jadi deh artis di acara musik pagi-pagi.
Selanjutnya, telinga sebagian penikmat musik lah (setidaknya saya ada diantara mereka) yang akan dipenuhi dengan aksi mereka yang Naujubileh itu.
Sebenarnya masih banyak lagi kasus penyelewengan terhadap konsep mahadahsyat dari para leluhur kita itu. Hanya karena berbagai keterbatasan, saya persilahkan anda untuk menilai dan merenungkannya sendiri karena tentu anda juga punya pengalaman yang lain.
Dan dari berbagai fenomena tersebut? perlukah kita memikirkan kembali untuk menerapkan asas musayawarah dan mufakat di republik ini? Hanya orang bodoh dan sedikit agak sinting yang mau melmikirkannya.....



@oghetos
Suatu sore di Pogung Lor

Selasa, 18 November 2008

Kampungan= Cultural Lag

TEKNOLOGI DAN PENGETAHUAN
Kasus I
“tolking-tolking, you know david Beckham?”
Kalimat di atas di ucapkan oleh seorang pemuda kepada seseorang di luar negeri yang dia sendiri tidak tahu dalam sebuah iklan televisi. Dalam cerita tersebut di ceritakan bahwa salah satu provider penyedia layanan telepon selular menyediakan layanan menelpon ke luar negeri dengan biaya murah. Hal itulah yang di manfaatkan si pemuda tadi untuk ngobrol sembarangan dengan orang entah berantah di luar negeri. Bersama dengan dua temannya, dia menertawakan kejadian yang baru saja mereka alami. Meskipun hanya iklan, saya yakin hal ini pasti pernah kejadian di dunia nyata.
Kasus II
Waktu itu saya lagi liburan di kampong. Suatu hari datang 2 orang pemuda setempat sambil menenteng sebuah ponsel keluaran terbaru di tangan. Ponsel tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas 3G dan harganya tak kurang dari 2,5 juta. Kedua pemuda tadi menanyakan cara mengaktifkan alarm di ponsel tersebut. Sontak saya kaget, “What?!?!?!, alarm aja lu ga tau?” guman saya dalam hati. Bagi saya hal tiu terasa aneh, ngapain coba dia beli ponsel keren begitu kalau tidak bisa di gunakan. Selanjutnya muncul di pikiran saya untuk menanyakan alas an membeli ponsel yang harganya tidak murah untuk ukuran kampung saya meskipun kondisi ekonomi di sana tidak terlalu buruk seperti di daerah lain.
Ketika saya tanya alasan mengapa beli ponsel yang ber”3G”, jawabannya tak kalah mengagetkannya. Dia malah balik menanyakan kepada saya apa itu 3G. setelah saya jelaskan 3G singkat dan jelas, akhirnya dia mengemukakan alasannya mengapa membeli ponsel mahal itu. Alasannya sederhana sekali sekaligus (lagi-lagi) mengagetkan. Dia menjawab: “ponsel seperti inikan kameranya ada 2, nah, saya bisa memotret diri saya sambil melihatnya di layar”. Dalam hati saya kembali berguman “What!!!!, hanya karena itu kamu bela-belain beli ponsel mahal?”.
Kasus III
Masih di kampung. Bapak saya menceritakan bahwa ada temannya, seorang petani, curhat kepadanya. Teman bapak saya tadi menanyakan kepada bapak saya berapa sih harga ponsel saat ini?. Bapak saya menjawab sambil mengeluarkan ponsel yang dia miliki (sebuah ponsel sederhana dengan harga +300 ribu). Teman bapak saya tadi lansung kaget. Anaknya minta di belikan sebuah ponsel yang kata anaknya harganya 3 juta lebih! Anaknya sudah putus sekolah sejak SD dengan alasan ekonomi meskipun secara kasat mata si bapak ini tidak kekurangan dengan hasil pertanian yang melimpah. Demi memenuhi permintaan anaknya, si bapak rela menjual sebagian tanahnya ntuk membeli ponsel.
Bagi seorang petani, tanah adalah harta paling berharga. Dan si bapak tadi rela menjual hartanya yang paling berharga demi sebuah benda kecil yang notabene bukan merupakan kebutuhan primer bagi dirinya maupun anaknya. Yang semakin menambah ironis kejadian ini adalah kenyataan bahwa di kampung tersebut belum di jangkau sinyal GSM apalagi CDMA lebih-lebih layanan 3G. hanya di beberapa tempat dapat ditemui sinyal yang kadang muncul kadang lenyap. Kadang orang-orang setempat harus memanjat pohon untuk mendapatkan sinyal dan melakukan panggilan dengan ponselnya.
Dengan pendidikan setingkat SD, saya bisa membayangkan kejadian seperti kasus II akan terulang. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresinya ketika membuka layanan web browser di ponselnya atau mengoperasikan fitur mp3 dan fitur-fitur lain mengingat ponsel seharga 3 jutaan sudah pasti sangat lengkap fiturnya. Belum lagi jika ingin mencetak foto dari ponsel tersebut mereka harus menempuh perjalanan sejauh 30 km ke ibukota kabupaten dengan fasilitas angkutan umum di kampung tersebut tidak tersedia setiap hari.
Dari ketiga kasus di atas kita bisa melihat adanya sebuah ironi yang terjadi di masyarakat kita. Di saman globalisasi sperti ini yang mana berbagai macam teknologi di ciptakan untuk mendukung aktivitas manusia semakin banyak dan semakin beragam. Untuk memperoleh barang-barang tersebut juga semakin mudah. Dan dalam mengoperasikan alat-alat berteknologi canggih tersebut kita di tuntut untuk memiliki pengetahuan yang “up to date”. Akan tetapi yang terjadi di masyarakat belum semuanya mampu untuk mengoperasikan akan tetapi oleh tuntutan untuk terlihat “gaul” meruntuhkan semua tembok yang menghalanginya untuk mendapatkannya. Dan saya yakin kejadian seperti ini hanya terjadi di kampung saya akan tetapi di daerah lain juga terjadi hal-hal seperti ini meskipun dalam bentuk lain.
Menurut William Ogburn dalam teori cultural lag: Masyarakat merupakan sebuah system yangterdiri dari bagian bagian yang senantiasa mengalami perubahan. Akan tetapi setiap perubahan tidak selalu bersifat serentak meliputi seluruh bagian. Keterlambatan satu bagian harus di ikuti bagian lain. Ketidak mampuan untuk melakuan penyesuaian menyebabkan terjadinya cultural lag atau ketertinggalan budaya. Menurut teori ini, ketiga kasus di atas sudah termasuk masalah social. Meskipun kejadain ini dalah kejadian yang sepele, akan tetapi di butuhkan solusi untuk memecahkannnya.
Untuk mencari sumber permasalahan ketiga kasus tersebut tidaklah susah. Ketiga kasus tersebut disebabkan karena teknologi dan teknologi selalu berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan pengethuan selalu bersumber dari pendidikan. Untuk kasus kedua dan ketiga yang terjadi di kapung saya, penyebab kurangnya pengetahuan masyarakat di karenakan kurangnya motivasi untuk belajar yang dikarenakan kurangnya fasilitas. Mereka menganggap bekerja lebih menjanjikan daripada sekolah. Dan memang hal itu terbukti dengan mampunya mereka membeli ponsel mahal.
Memang kita tidak boleh selalu menyalahkan keadaan, akan tetapi kita di tuntut untuk memberikan solusi. Semua eleman yang berkepentingan di tuntut untuk turut berpartisipasi dalam memecahkan kasus ini. Kita tidak boleh hanya bergantung dari program pemerintah yang entah kenapa selalu datang terlambat.

Selasa, 27 Mei 2008

Matematika neh

Beauty of Math!

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

0 x 9 + 1 = 1
1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Brilliant, isn't it?

And look at this symmetry:

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111=123456789 87654321

Now, take a look at this...

101%

From a strictly mathematical viewpoint:

What Equals 100%?
What does it mean to give MORE than 100%?

Ever wonder about those people who say they are giving more than 100%?

We have all been in situations where someone wants you to
GIVE OVER 100%.

How about ACHIEVING 101%?

What equals 100% in life?

Here's a little mathematical formula that might help answer these
questions:

If:

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Is represented as:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26.

If:

H-A-R-D-W-O- R- K
8+1+18+4+23+ 15+18+11 = 98%

And:

K-N-O-W-L-E- D-G-E
11+14+15+23+ 12+5+4+7+ 5 = 96%

But:

A-T-T-I-T-U- D-E
1+20+20+9+20+ 21+4+5 = 100%

THEN, look how far the love of God will take you:

L-O-V-E-O-F- G-O-D
12+15+22+5+15+ 6+7+15+4 = 101%

Therefore, one can conclude with mathematical certainty that:

While Hard Work and Knowledge will get you close, and Attitude will
let you there, It's the Love of God that will put you over the top!

Rabu, 09 April 2008

Cowok Ganteng VS Cowok Jelek (pengalaman menjadi cowok jelek)

Kalo cowok ganteng pendiam

cewek2 bilang: woow, cool banget...

kalo cowok jelek pendiam

cewek2 bilang: ih kuper...



kalo cowok ganteng jomblo

cewek2 bilang: pasti dia perfeksionis

kalo cowok jelek jomblo

cewek2 bilang: sudah jelas...kagak laku...



kalo cowok ganteng berbuat jahat

cewek2 bilang: nobody's perfect

kalo cowok jelek berbuat jahat

cewek2 bilang: pantes...tampangnya kriminal



kalo cowok ganteng nolongin cewe yang diganggu preman

cewek2 bilang: wuih jantan...kayak di filem2

kalo cowok jelek nolongin cewe yang diganggu preman

cewek2 bilang: pasti premannya temennya dia...



kalo cowok ganteng dapet cewek cantik

cewek2 bilang: klop...serasi banget...

kalo cowok jelek dapet cewek cantik

cewek2 bilang: pasti main dukun...



kalo cowok ganteng diputusin cewek

cewek2 bilang: jangan sedih, khan masih ada aku...

kalo cowok jelek diputusin cewek

cewek2 bilang:...(terdiam, tapi telunjuknya

meliuk-liuk dari atas ke

bawah)...



kalo cowok ganteng ngaku indo

cewek2 bilang: emang mirip-mirip bule sih...

kalo cowok jelek ngaku indo

cewek2 bilang: pasti ibunya Jawa bapaknya robot...



kalo cowok ganteng penyayang binatang

cewek2 bilang: perasaannya halus...penuh cinta kasih

kalo cowok jelek penyayang binatang

cewek2 bilang: sesama keluarga emang harus

menyayangi.. .



kalo cowok ganteng bawa BMW

cewek2 bilang: matching...keren luar dalem

kalo cowok jelek bawa BMW

cewek2 bilang: mas majikannya mana?...



kalo cowok ganteng males difoto

cewek2 bilang: pasti takut fotonya kesebar-sebar

kalo cowok jelek males difoto

cewek2 bilang: nggak tega ngeliat hasil cetakannya

ya?...



kalo cowok ganteng naek motor gede

cewek2 bilang: wah kayak lorenzo lamas....bikin

lemas...

kalo cowok jelek naek motor gede

cewek2 bilang: awas!! mandragade lewat...



kalo cowok ganteng nuangin air ke gelas cewek

cewek2 bilang: ini baru cowok gentleman

kalo cowok jelek nuangin air ke gelas cewek

cewek2 bilang: naluri pembantu, emang gitu...



kalo cowok ganteng bersedih hati

cewek2 bilang: let me be your shoulder to cry on

kalo cowok2 jelek bersedih hati

cewek2 bilang: cengeng amat!!...laki- laki bukan sih?



Kalo cowok ganteng baca e-mail ini

langsung ngaca sambil senyum2 kecil, lalu berkata

"life is beautifull"



kalo cowok jelek baca e-mail ini,

Frustasi, ngambil tali jemuran, trus triak

sekeras-kerasnya

"HIDUP INI KEJAAAAMMM.. ..!!!"

Jumat, 07 Maret 2008

belajar Filsafat dikit

Allah Menurut Spinoza dan Hegel: Suatu Tinjauan Filosofis atas Panorama Metafisika
Oleh: Blasius Baene

Catatan Redaksi: Judul asli tulisan ini adalah “Allah Dalam Metafisika Teologi Menurut Baruch de Spinoza dan Hegel: Suatu Tinjauan Filosofis atas Panorama Metafisika”. Judul di atas redaktur ubah karena jumlah huruf “title” ternyata terbatas. Tulisan ini sangat ilmiah dan patut dijadikan bahan refleksi serta referensi tulisan ilmiah. Seperti kita tahu, Spinoza adalah filsuf yang sering disebut sebagai penganut aliran Panteisme, sedangkan Hegel adalah penganut filsafat Roh. Bagi Hegel, realitas dunia adalah “Roh”. Selamat membaca!
1. Pendahuluan
Salah satu bidang penjelajahan metafisika (ontologi) adalah pengembaraan terhadap akal budi manusia untuk mencari dasar-dasar realitas. Pencarian terhadap dasar-dasar realitas tersebut dapat dijumpai dalam suatu pemahaman yang rasional dengan menggambarkan Ada sebagai realitas murni. Pemahaman terhadap Ada dalam metafisika teologi, bukan suatu ada sebagaimana kita jumpai dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Misalnya: ada dua pulpen, ada orang yang lewat di depan rumah, atau ada empat ekor anak anjing yang baru lahir, dan lain sebagainya. Ada itu juga bukan sesuatu yang dapat diraba, dipegang, dilihat, dan disentuh oleh manusia. Tetapi, pemahaman terhadap Ada yang dimaksud dalam metafisika teologi adalah sebuah pemahaman terhadap “realitas murni.” Realitas murni itulah yang disebut “itu” sebagai yang Absolut, tidak dapat dibagi-bagi atau dikelompokkan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa Ada itu adalah “itu” yang utuh, tunggal, satu, dan sempurna. Oleh karena itu, Aristoteles menyebutnya sebagai actus purus, motor immobilis, causa prima non causata, dan lain sebagainya.
Pemahaman terhadap Ada sebagai realitas Yang Absolut melalui penjelajahan akal budi manusia, khususnya dalam metafisika teologi dapat kita jumpai dalam beberapa pandangan para filosof terkemuka, seperti dalam gagasan-gagasan Baruch de Spinoza dan Hegel. Dengan gaya berpikir yang cemerlang, kedua filosof ini (Spinoza dan Hegel) mencoba menguraikan siapakah Allah itu. Apakah ada pemahaman lain yang lebih orisinil untuk mengetahui identitas sang causa prima non causata itu? Spinoza dan Hegel mencoba memecahkan persoalan ini. Spinoza melihat bahwa realitas Yang Absolut itu adalah Substansi. Sebaliknya, Hegel mendasarkan filsfatnya pada Roh Mutlak sebagai itu Dia Yang Absolut atau Allah. Bagaimana kedua filsuf ini memahami Substansi dan Roh Mutlak sebagai realitas Yang Absolut, coba saya uraikan di bawah ini.
2. Pengertian Panorama Metafisika
Apa itu panorama? Panorama diartikan sebagai pemandangan alam yang bebas dan luas (KBBI, 2003:825). Disebut sebagai pemandangan yang bebas dan luas, karena dalam mengamati sesuatu, sesuatu itu tidak dipandang secara partikular, melainkan dipandang secara menyeluruh tanpa ada pengklasifikasian terhadap realitas itu sendiri. Dalam kaitannya terhadap panorama filsafat, itu berarti filsafat dilihat atau dipandang secara menyeluruh dan bukan sebagian atau partikular saja. Misalnya: pemahaman terhadap filsafat Yunani Awali (Ancient Greek) sampai ke postmodernisme. Pemahaman ini sangat penting untuk melihat berbagai realitas yang terjadi dalam periode perkembangan filsafat secara menyeluruh.
Panorama metafisika teologi melukiskan suatu penjelajahan akal budi manusia yang tidak pernah berhenti pada suatu pemahaman terhadap pengertian Ada secara partikular, melainkan metafisika teologi memahami Ada secara menyeluruh bahkan berlanjut pada pemahaman akan eksistensi Allah1 sebagai realitas Yang Absolut atau dalam bahasa Aristoteles disebut sebagai itu Dia causa prima non causata. Panorama metafisika sebagai pengembaraan akal budi manusia tidak pernah kunjung selesai melainkan mengalami suatu pemahaman yang berkembang secara terus menerus. Jadi, panorama metafisika teologi adalah suatu pemahaman terhadap realitas Ada yang terus menerus dibingkai dalam suatu pemahaman secara menyeluruh dan bukan secara partikular.
2.1. Riwayat Hidup Spinoza
Baruch de Spinoza lahir di Amsterdam pada tahun 1632 dari sebuah keluarga Yahudi yang melarikan diri dari Portugal, karena pada saat itu orang Yahudi dipaksa untuk menjadi penganut agama Katolik.2 Gagasan-gagasan Spinoza banyak dipengaruhi oleh pemikiran Descartes terutama pemikiran terhadap Substansi yang pada akhirnya disebut oleh Spinoza sebagai realitas Aboslut.
Perkembangan pemikiran Spinoza yang semakin brilian dalam bidang filsafat, membuat para tokoh agama Yahudi merasa gelisah dan cemas, karena ajaran-ajaran Spinoza dianggap tidak ortodoks.3 Akibatnya, pada tahun 1656 Spinoza dikucilkan dari Sinagoga di Amsterdam. Setelah keluar dari Sinagoga, Spinoza mengalami suatu perubahan dalam hidupnya dan pada saat itulah dia mengganti namanya menjadi Benedictus de Spinoza sebagai tanda kehidupan barunya. Pada tahun 1677 Spinoza meninggal di Den Haag.
2.1.1. Gagasan Spinoza Terhadap Substansi
Salah satu gagasan yang diajukan oleh Spinoza dalam memahami realitas Yang absolut adalah Substansi Tak Terhingga atau Allah.4 Gagasan-gagasan Spinoza dalam mengungkap realitas yang Absolut ini, ia banyak dipengaruhi oleh rasionalisme Descartes. Namun, pengaruh Descartes yang telah membentuk pola pemikirannya, tidak semuanya diamini dengan baik oleh Spinoza terutama dalam memahami Substansi sebagai realitas murni yang Absolut. Dalam memahami Substansi, Descartes melihat bahwa Substansi itu merupakan suatu realitas yang tidak membutuhkan sesuatu yang lain.5 Dengan kata lain, Descartes melihat Allah sebagai Substansi yang tidak membutuhkan yang lain untuk berada. Tetapi, disamping Substansi sebagai realitas Absolut, Descartes menerima substansi yang lain kendatipun substansi yang dimaksud tidak berlaku secara Absolut melainkan relatif.
Berkaitan dengan Substansi yang diajukan oleh Descartes, Spinoza melihat bahwa Descartes tidak memiliki sebuah komitment yang akurat untuk mendefinisikan Substansi itu sendiri, karena dalam kenyataannya Descartes masih menerima adanya Substansi yang lain. Di sinilah Spinoza tidak setuju dengan gagasan yang disodorkan oleh Descartes. Tetapi, di sisi lain, Spinoza menerima gagasan yang disodorkan oleh Descartes yang mengatakan bahwa Substansi itu adalah sesuatu yang tidak membutuhkan yang lain, artinya bahwa Substansi itu adalah suatu realitas yang mandiri, otonom, utuh, satu dan tunggal.
Untuk memahami Substansi yang disodorkan oleh Descartes, Spinoza berpendapat bahwa Substansi itu adalah merupakan sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri atau sesuatu yang tidak membutuhkan aspek lain untuk membentuk dirinya menjadi ada. Jadi, dia itu berdiri sendiri dan membentuk dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai causa prima non causata. Oleh karena itu, dalam tatanan ada (Primum Ontologicum), Substansi itu disebut sebagai yang pertama dan yang asali. Sedangkan dalam sistem kelogisan (Primum Logicum), Substansi merupakan realitas yang pertama dan yang Absolut.6 Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam pandangan Spinoza hanya ada satu Substansi dan Substansi itu adalah itu” Dia yang Tak Terhingga atau Allah. Konsep metafisika Spinoza terhadap Substansi sebagai realitas Yang Absolut, mau memperlihatkan dengan jelas obyek penjelajahan refleksi metafisika terhadap realitas Ada yang paling tinggi dan sempurna, yaitu refleksi tentang Allah sebagai realitas yang Absolut, murni, tunggal dan sempurna.
Tetapi, selain Allah sebagai Substansi. Spinoza juga melihat Alam sebagai substansi. Dengan kata lain, dalam pandangan Spinoza Allah atau Alam adalah merupakan suatu kenyataan tunggal yang memiliki satu kesatuan. Pemahaman ini berangkat dari suatu pemahaman terhadap pembedaan antara Substansi yang oleh Spinoza disebut sebagai atribut-atribut dan modi. Modi adalah cara berada dari atribut-atribut dan secara tidak langsung adalah dari Substansi. Memang benar bahwa Spinoza mengakui hanya ada satu Substansi, tetapi di dalam substansi itu terkandung atribut-atribut (sifat hakiki) yang tak terhingga jumlahnya. Namun, dari sekian banyak sifat hakiki itu hanya ada dua yang dapat diketahui oleh manusia, yaitu keluasan dan pemikiran (extensio dan cogitatio). Dalam hal ini, Spinoza melihat Allah sebagai keluasan (Deus est res extensa) dan pemikiran (Deus est res cogitans).7 Keluasan dan pemikiran merupakan dua hal yang memiliki substansi yang sama. Spinoza menggagas ini dalam ajarannya tentang Substansi tunggal yaitu Allah atau Alam (Deus Sive Natua). Menurut Spinoza, realitas Yang Absolut itu memiliki sifat yang abadi, tak terbatas, dan tunggal. Maka, dari pemahaman seperti ini Spinoza melihat bahwa karena Allah adalah satu-satunya Substansi, maka segala sesuatu yang ada di bumi atau alam ini adalah berasal dari Allah. Di sinilah Spinoza terus menerus tenggelam dalam suatu refleksi tentang hubungan antara Allah dan manusia sebagai satu kesatuan. Maka, untuk sampai kepada Allah, Spinoza mengatakan bahwa perlu ada cinta. Cinta merupakan suatu bentuk pengenalan tertinggi terhadap Tuhan. Melalui cinta, Spinoza melihat bahwa kita dapat menerima segala sesuatu yang ada di alam, dan dengan demikian manusia menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan sebagai realitas Yang absolut. Berawal dari sinilah Spinoza disebut sebagai filsuf yang tenggelam dalam Tuhan.
2.1.2. Riwayat Hidup Geoge Wilhelm Frederich Hegel
Hegel adalah seorang filsuf yang lahir di Stuttgart, Jerman pada tahun 1770. Ia belajar filsafat dan teologi di Tubingen bersama dengan Schelling. Pada saat Napoleon menguasai kota Jena, Hegel mengungsi ke Nunberg dan di sana ia menjadi Rektor Gymnasium. Pada tahun 1831 dia meninggal dunia di Berlin.
2.1.3. Gagasan Hegel Tentang Roh Mutlak
Hegel merupakan seorang filsuf yang memiliki pemikiran cemerlang dalam bidang filsafat. Ia sangat berpengaruh dalam memahami realitas yang terjadi di Jerman pada saat itu. Karyanya sebagai seorang filsuf banyak memberikan sumbangan pemikiran kepada setiap orang yang mencoba memahami realitas Absolut atau lebih tepatnya Tuhan sebagai puncak dari pencarian manusia. Dalam sistem filsafat Hegel, ada tiga bagian besar yang harus diketahui, yaitu: ilmu logika, filsafat alam, dan filsafat Roh. Dari ketiga bagian ini, saya memfokuskan diri hanya pada gagasan Hegel tentang filsafat Roh.
Dalam pandangan Hegel, seluruh kenyataan merupakan suatu kejadian dan kejadian itu merupakan kejadian Roh. Dan Roh itu adalah “itu Dia yang Absolut atau Allah. Menurut Hegel, Roh sebagai realitas Absolut sesungguhnya merupakan suatu ide yang melewati alam. Sekadar untuk diketahui bahwa dalam memahami alam, Hegel berbeda dengan Spinoza. Spinoza memahami alam sebagai satu Substansi yang memiliki satu kesatuan, sedangkan Hegel memahami alam sebagai satu tahap dalam kejadian Allah. Oleh karena itu, Hegel mengajukan bahwa dalam Roh mutlak itu terdapat Roh subyektif, yaitu subyek yang memiliki kesadran terhadap dirinya sendiri. Apa yang disebut sebagai Roh subyektif ini mengalami suatu perubahan menjadi Roh obyektif yang menciptakan suatu gambaran tentang hukum, moral, dan lain sebagainya. Karena Roh ini mengalami perubahan, maka puncak dari perkembangan Roh ini adalah Roh Absolut8 sebagai realitas yang sempurna. Di dalam Roh yang Aboslut ini, terkandung seni, agama, dan filsafat yang memiliki realitas Absolut atau Yang Tak Terhingga sebagai obyek perefleksiannya. Ketiganya merefleksikan yang Absolut itu dalam cara pandang yang berbeda-beda. Misalnya: seni memahami yang Absolut melalui pengamatan inderawi, yaitu melalui lukisan-lukisan. Melalui keindahan sebuah karya seni, Hegel melihat bahwa manusia dapat menunjukkan kemampuannya untuk memahami keindahan alam yang merupakan kesaksian sempurna terhadap fakta bahwa manusia dapat mengintuisi keindahan. Namun, alam hanyalah sebagai simbol yang ada dalam pikiran manusia, karena ada yang lebih indah dari alam, yaitu Allah sebagai realitas murni yang tak terbagi. Demikian juga agama mamahami Yang Absolut dalam imajinasi, yaitu melalui refleksi atau permenungan sehari-hari. Sedangkan filsafat memahami Yang absolut melalui rasionalitas atau pencarian akal budi manusia. Kendatipun ketiga unsur ini memiliki cara tersendiri untuk memahami Yang Absolut itu, namun mereka mempunyai obyek pengamatan yang sama, yaitu Allah sebagai realitas murni, tunggal, utuh dan tak terbatas.
3. Relevansi
Tidak dapat disangkal bahwa persoalan tentang Yang Absolut atau Allah dalam metafisika menimbulkan begitu banyak problem bagi para filsuf. Ada banyak interpretasi tentang Tuhan yang diajukan dengan tujuan bagaimana agar manusia sampai kepada pemahaman akurat tentang Yang Absolut itu sendiri. Bahkan dalam arti tertentu mereka merasa ragu untuk menjelaskannya. Namun, dalam keraguan mereka, mereka berusaha untuk terus menerus mencari dan merefleksikan siapakah Tuhan itu dalam kehidupan mereka.
Kendatipun banyak mengalami kesulitan dalam menginterpretasikan Yang absolut, namun para filsuf mencoba menjembatani bebagai keraguan manusia dengan menyodorkan berbagai gagasan yang mengarahkan manusia sampai kepada pemahaman akan Tuhan sebagai akhir dari pencarian manusia sepanjang hidupnya.
Apa yang digagas oleh Spinoza dan Hegel berkaitan dengan tema tentang Yang Absolut, saya tidak mengklaim bahwa kedua filsuf ini mengajukan gagasan yang salah untuk memahami siapakah Tuhan itu. Pun juga tidak mengatakan bahwa mereka menyodorkan gagasan-gagasan yang benar. Dengan kata lain, saya mau mengatakan bahwa apa yang mereka gagas tentang Allah bukanlah puncak pemahaman dan pencarian akan Yang Absolut. Buktinya, bahwa masih ada begitu banyak filsuf yang mencoba menggeluti dunia metafisis untuk memahami Allah sebagai realitas terakhir dari penjelajahan pencarian manusia. Menurut saya, Spinoza dan Hegel telah berjuang dan memiliki cara tersendiri untuk menginterpretasikan siapakah Tuhan dalam kehidupan mereka. Misalnya: Spinoza memahami Substansi sebagai “itu Dia yang Tak Terhingga atau Allah. Sedangkan Hegel memahami seluruh kenyataan Roh Mutlak sebagai Yang Tak Terbatas dan itulah Allah. Jadi, menurut saya tema yang disodorkan oleh Spinoza dan Hegel merupakan sumbangan pemikiran yang sangat penting dalam membangun keseluruhan gagasan-gagasan panorama metafisika teologi yang berbicara tentang Allah.
Saya melihat bahwa panorama metafisika Spinoza dan Hegel memberikan suatu arti penting dalam pencarian manusia akan realitas Yang Absolut. Pada zaman sekarang misalnya, ada banyak orang mencari Tuhan dalam kehidupan mereka dengan berbagai cara sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Akibatnya, agama ditinggalkan karena mereka tidak menemukan apa yang mereka idam-idamkan dalam hidup mereka, yakni Tuhan sang Maha cinta. Maka, melihat realitas yang demikian, saya berpendapat bahwa sangat penting bagi manusia zaman sekarang untuk mempelajari berbagai konsep yang diajukan oleh para filsuf yang pada akhirnya membawa manusia sampai kepada pemahaman akan Allah sang realitas Absolut. Tetapi, dalam memahami realitas Yang Absolut itu, kita tidak boleh berhenti pada satu pandangan saja. Pun juga kita tidak boleh dipengaruhi oleh pandangan tertentu untuk berbalik dari iman kita. Sebaliknya, kita memahami semua gagasan yang ada dengan tujuan untuk membantu kita berpikir dan berefleksi sejauh mana kita memahami siapakah Allah itu. Karena hanya dengan cara demikian kita dibantu untuk sampai kepada pemahaman akan Allah sebagai tujuan terakhir dari pencarian dan pergulatan batin di dunia ini.
4. Kesimpulan
Apa yang dapat disimpulkan dari gagasan yang disodorkan oleh kedua filsuf ini berkaitan dengan pemahaman mereka terhadap Yang Absolut itu? Menurut saya, ada dua poin yang dapat disimpulkan dari filsafat Spinoza dan Hegel atas sumbangan mereka terhadap pertanyaan siapakah Allah. Pertama: Spinoza memperlihatkan konsep metafisika teologi dari sudut pandang Substansi sebagai itu Dia Yang Tak Terhingga dan akhirnya dipahami sebagai Allah. Bagi Spinoza, segala sesuatu yang ada di bumi ini adalah berasal dari Allah. Jadi, alam juga merupakan suatu substansi. Dengan kata lain, Allah dan alam merupakan satu kenyataan tunggal yang memiliki satu Substansi. Kedua: Dalam filsafat Hegel, konsep Allah secara metafisis dilihat dari sudut pandang Roh Mutlak sebagai “itu” Dia Yang Absolut, yang Murni, dan yang tunggal. Bagi Hegel, seluruh kenyataan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Roh Mutlak. Manusia dan substansi duniawi lain adalah fase dan bagian dari proses penjelmaan dari Roh Mutlak.
Sebagai catatan kritis saya terhadap filsafat Spinoza adalah bahwa Spinoza tidak konsisten dengan gagasan yang dia ajukan, karena ia menggabungkan Allah dan Alam menjadi satu realitas yang memiliki satu kesatuan. Menurut saya, dengan menggabungkan Allah dan alam menjadi satu kesatuan yang memiliki substansi yang sama, maka Spinoza mereduksi individualitas, kebebasan, dan tanggungjawab manusia. Dengan kata lain bahwa Spinoza menolak personalitas. Lalu, pertanyaannya adalah di manakah tanggungjawab manusia?